RESENSI
NOVEL
Identitas Buku
Judul buku : Panggilan Hati
Penulis : Priya Kumar
Penerbit : Baca
Cetakan : 1
Tahun : 2017
Tebal halaman : 228 halaman
ISBN : 978-602-6486-080
Sinopsis
Masalah hidup sering
membuat orang mengarahkan telunjuk pada orang lain untuk disalahkan. Kita
jarang berkaca dan evaluasi diri. Padahal, segala yang kita dapatkan tak pernah
lepas dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Inilah yang tersirat dari novel
karya penulis berbakat asal India ini. Novel berjudul asli The Calling; Unleash Your True
Self ini mengisahkan
perjalanan Arjun, lelaki yang hidupnya berantakan. Rumah tangganya di ujung
tanduk dan karirnya sebagai pemimpin pemasaran mandek.
Di tengah persoalan
itu, Arjun mendapat semacam panggilan untuk melakukan perjalanan di gunung
Himalaya, menuju ke Hemkund Sahib. Siapa sangka, perjalanan tersebut menjadi awal
perubahan besar dalam diri Arjun. Arjun ditemani anak muda bernama Chandu
sebagai kuli angkutnya. Arjun dan Chandu masing-masing menunggang keledai dan
melakukan perjalanan menembus jantung Himalaya yang penuh salju. Setelah
perjalanan panjang, mereka bertemu seorang sadhu yang melakukan Sadhna di atas sebongkah
batu.
Anehnya, sadhu mengaku tugasnya telah selesai dan
kedatangan Arjun adalah untuk menggantikannya dan membebaskannya. Arjun tentu
keberatan karena ingin melanjutkan perjalanannya sendiri. Setelah berdebat, sadhu memberi solusi untuk memberi Arjun
sebuah tes. Jika Arjun berhasil, ia boleh pergi. Jika gagal, Arjun harus
menggantikannya melakukan Sadhna di atas batu. Arjun hanya perlu lolos satu tes
saja dari tiga tes yang diberikan. Sadhu mulai mencabut batang tanaman dan membuat garis
melingkar di tanah selebar enam puluh meter, kemudian ia pergi. Arjun, Candhu,
dan kedua keledai mereka harus berada di dalam lingkaran, tak boleh keluar
sampai sadhu kembali datang.
Dari tiga tes yang
diberikan, tak satu pun Arjun berhasil melewatinya. Pada tes pertama, Arjun
gagal karena tak melakukan apa-apa dalam lingkaran selama ditinggal sadhu. Arjun hanya
bertahan di lingkaran itu. Padahal, banyak kejadian terjadi. Ada bau busuk dari
bangkai anak rusa, keledai yang terus meringkik gelisah, tanah gersang dan
rumput yang mengering. “Duduk diam di ruang dan duniamu, lalu tak melakukan
apa-apa merupakan aib bagi kecerdasan yang dianugerahkan padamu,” kata sadhu (hlm 131). Ini menjadi simbol bahwa
setiap orang harus aktif berkontribusi bagi dunianya; keluarga, pekerjaan,
lingkungan sekitar. Tak sekadar bertahan hidup tanpa melakukan apa-apa.
Arjun tertegun dan
menyadari kebodohannya. Tak ingin mengulangi kesalahan, ketika tes kedua, Arjun
segera mengubur bangkai anak rusa, membebat luka keledai dengan kain sehingga
hewan itu berhenti meringkik, mencabuti rumput kering dan mengolah tanah
sehingga rumput baru tumbuh bersemi. Sempat bangga dan merasa dirinya berguna,
Arjun tetap dinyatakan gagal oleh sadhu. Sebab, ia tidak mengikutsertakan Candhu dalam
tindakannya. “Setiap orang di dunia memiliki peran penting dalam tujuan kita,
terutama orang yang merupakan bagian dari perjalanan kita,” kata sadhu (hlm 152). Arjun sadar, ia
menyepelekan kehadiran Chandu yang telah menemaninya sepanjang perjalanan.
Pengalaman tes
pertama dan kedua membuka banyak pemahaman baru bagi Arjun. Ia tak ingin gagal
di tes terakhir yang sangat menentukan. Di tes ketiga, sadhu meminta Arjun agar tidak membiarkan
perubahan apa pun terjadi. Arjun pun frustasi dan pesimis dengan tantangan
tersebut. Ia berpikir, setiap orang tentu tak punya kuasa atas segala perubahan
di sekitarnya. Sadhu pun datang dan menjelaskan bahwa Arjun
lagi-lagi telah gagal. Sebab Arjun kembali mengeluh dan tak semangat. Artinya
ia telah berubah, padahal tantangannya adalah tidak membiarkan perubahan apa
pun terjadi. “Satu-satunya kekuatan yang kau miliki adalah terhadap keadaanmu
sendiri,” tegas sadhu (hlm
170).
Kata-kata sadhu membuat Arjun merenungkan hidupannya.
Tentang istrinya yang ingin berpisah, juga kariernya yang mandek. Ia sadar
bahwa semua itu karena kesalahannya sendiri. Arjun merasa rendah diri sebagai
suami dan di saat bersamaan terus mencari kesalahan istrinya, sehingga rumah
tangganya hancur. Tentang karirnya, Arjun sadar ia telah berbohong tentang
bakat, pendidikan, dan kemampuannya saat melamar kerja. “Aku telah melukis
gambaran yang lebih besar daripada diriku yang sebenarnya” (hlm 192). Ketika
akhirnya tak bisa menjalankan tugas dengan baik, Arjun menyalahkan rekan
kerjanya sehingga pekerjaanya banyak masalah.
Arjun
harus menjalankan Sadhna-nya dengan duduk diam di atas sebongkah batu sampai
waktu yang tak ditentukan. Namun, perjalanan Arjun telah mengubah segalanya.
Arjun yang pengeluh, pesimis, dan selalu menyalahkan orang lain telah berubah
menjadi sosok percaya diri, berpikir positif dan ingin selalu menebarkan
kebaikan dan manfaat pada orang lain.
Unsur Intrinsik :
·
Tokoh Utama
Arjun : pemuda yang berantakan, ingin mendapatkan sesuatu yang
instan, sedikit pemalas.
·
Chandu
Penurut, mau memahami orang lain, sabar.
Keunggulan dan kelemahan novel
·
Keunggulan : novel ini merupakan novel
terjemahan dari India yang best seller karena kisahnya yang meninspirasi banyak
pembaca. Perjuangan seseorang yang ingin mendapatkan jati diri dalam kehidupan
tidak semudah yang dibayangkan. Memalui kisah Arjun pembaca mendapat banyak
motivasi dari sang tokoh.
·
Kelemahan : karena ini merupakan novel
terjemahan dari India beberapa kata tidak dapat dimengerti oleh pembaca dari
luar negeri India karena maksud dari sang penulis disesuaikan dengan tradisi
dari India. Namun novel ini disertai makna kata tersebut.
Kesimpulan
Novel ini mengajak kita menyadarkan siapa diri kita,
mengapa kita diciptakan dan apa yang harus kita lakukan selama hidup di dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar